ME and My Boy

ME and My Boy

Oleh Desy Kumala Sari, S.Pd

Guru Mapel Bahasa Inggris- MTsN 2 Pekanbaru

Ini adalah kisahku ketika mengikuti seminar dan pelatihan bersama GGDN Sabtu, 9 Februari 2019 yang bertempat di Gedung LPMP Provinsi Riau kemaren. Aku hadir bersama buah hatiku yang paling kecil, Baby Gibran yg masih berusia 21 bulan dan akan genap 24 bulan a.k. 2 tahun 14 Mei mendatang.

Kenapa diriku membawa buah hatiku untuk ikut seminar dan pelatihan? Kepada setiap orang yang bertanya kan kujawab, kalau untuk Sabtu Minggu pengasuh untuk anakku tak ada, pengasuh untuk anakku hanya ada mulai dari Senin hingga Jumat, sedangkan pada Sabtu Minggu dia mencari uang tambahan dengan menerima upah setrikaan, mungkin gaji yang diterima dari mengasuh anakku (aku tau) tidak cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka sehari – hari. Aku pun paham itu. maka dari itu jika ada kegiatan pada hari Sabtu Minggu bagaimanapun keadaannya, diriku akan selalu membawa sibontot ini kemanapun tujuannya. Karena apa? Karena pada hari Sabtu Minggu inilah aku bisa menjalin bonding dengan baby ku ini.Senin sd Jumat dia sudah menghabiskan (mengorbankan…kalau saya bilang) hari – hari nya bersama tante pengasuhnya. dari pukul 6 pagi hingga pukul 5 sore dia ku tinggal,melaksanakan tugas negara, mencerdaskan anak bangsa, dan mencari sesuap nasi serta sebongkah berlian…. ( eeaaa),  sehingga setiap apapun tahapan perkembangannya diriku hanya  tau dari tante pengasuhnya. Jadi aku tidak akan menghilangkan haknya untuk menjalin bonding dg diriku pada hari Sabtu Minggu ini.

Lalu kalau ada lagi yang bertanya …”nenek (mbah) nya mana? Kan bisa dititip ke neneknya sebentar….” . Hmmm…aku hanya bisa tersenyum. Baby ku ini memang dititipkan dirumah mbahnya dengan tante pengasuhnya, jadi mamak hanya sebagai pengawas saja, kalau untuk benar benar mengasuh beliau sudah tidak sanggup lagi. Akupun sudah tak mau lagi menitipkan anakku ke mbahnya lagi, memang  anakku yang no 2 dan no 3 memang dititip asuh ke mamak ketika diriku pergi kerja di bantu oleh almarhum bapak. Waktu itu bapak masih ada (hidup). Namun waktu itu almarhum bapak berpesan “ cukup sampai 3 ini anakmu….kasian mamak yang mengasuh…waktu itu aku hanya bisa terdiam tak mampu menjawab sepatah katapun dan hanya  mengangguk saja. Pada september 2015 bapak berpulang…sejak itu secara fisik mamak kami berubah. Dia tak punya semangat hidup. Dia seperti kehilangan separuh badannya. Alhamdulillah semangat hidupnya setahun kemudian kembali. Tahun berikutnya diriku hamil lagi anak ke4 ( gak bisa KB saya mak… jadi kalo Allah bilang… Elo siap siap ye mak…taun ini elo dapet anak lagi…Jlebb!! hamillah saya. Bisa apa coba kalau Allah yang sudah berbuat. Saya cuma bisa terima kan. Wkwkwkwkwk). Waktu itu ga sengaja dengar ceramah Ustadz UAS betapa berat nya dosa (anak) yang menitipkan anak kepada orangtuanya dengan alasan dia bekerja. Masya Allah!!! Disitulah aku merasa tertampar… ya Allah …Betapa berdosanya diriku. Hik. Sudah 2 orang anakku yang kutitipkan pada orangtuaku dengan alasan diriku bekerja.

Jadi ketika si bontot lahir…diambillah jalan tengah… kami cari pengasuh namun tetap dirumah neneknya setidaknya mamak bisa mengawasi anakku dan pengasuhnya.

Balik lagi ke cerita si baby yang selalu kubawa kemana mana. Sudah menjadi resiko yang harus kuterima ketika menjadi seorang ibu apalagi jadi ibu dari 4 anak. Hi hi hi. Tapi aku tidak akan mengkambinghitamkan anak – anak atau keadaan ku untuk tidak bisa menambah ilmu. Tapi aku juga tidak akan mengorbankan anak anakku juga ketika aku mencari ilmu tambahan. Keinginan S2 juga hingga hari ini masih pending dengan alasan dana dan anak anak yang masih kecil dan akan lebih lama lagi pending nya mungkin dengan alasan dana nya untuk pendidikan anak anak. ( banyak alasan….)

Makanya biar semuanya balance…adil…dan merata…. maka setiap ada peluang untuk mencari ilmu tambahan baik itu seminar atau pelatihan… diriku ikut lengkap ya sama anakku. Adil kan?

Lagian kalau dirunut kebelakang si baby Gibran ini sudah biasa ikut emaknya pelatihan kemana – mana , sejak dalam kandungan lagi. Waktu hamil 4 bulan (tahun 2016) saya ikut pelatihan yang ditaja oleh Alkifayah Institute di Guest House UIN Susqa sambil bawa mas nya yang nomer 3. Waktu itu mas nya umur 3 tahun lebih dikit. Hamil 7 bulan saya ikut pelatihan lagi di Alkifayah Insitute juga di hotel Zaira (awal tahun 2017), oke oke aja tu bawak perut gede saya. Hi hi hi. Kemudian tahun lalu ketika umurnya baby Gibran setahunan lebih, saya ikut pelatihan lagi di GGDN di Aula UNRI Gobah…. dan dia santai aja tuh. Sudah biasa kali ya bapak ibu. padahal bapak ibu taukan gimana rempong bayi setahunan itu… saya cuman modali jajanan dan minumannya saja plus youtube nya. Sudah. Aman. Saya bisa ikut pelatihan. Saya dapat ilmu.

Nah, yang kemarin, saya ikut pelatihan GGDN lagi, dia enjoy juga. Bahkan dia senang banget. karena pikirnya kita pergi jalan jalan. Ke tempat tempat yang baru. Kita pergi berdua pake motor. Pakein jaket plus topi. Saya modalin bekal, jajanan, minum, youtube nya(jangan lupa ya mak) plus kalo yang sekarang ini plus pena dan kertas untuk dia orat oret. Sampai disana waktu menunjukkan jam sembilan gitu… telatlah ceritanya. But its okelah. Daripada nggak. Sepanjang jalan dari mulai parkiran motor kita jalan sampai masuk ruangan, saya selalu pesan sama si bontot ini dengan kalimat  “ Ibam… nanti kalau mama belajar Ibam jangan rewel ya nak?..” And he gave me his big smile. Omg… seneng plus terharu banget rasanya jadi mamak kalo kayak gini. Mudah – mudahan kalau mamaknya ada rejeki bisa S2 trus dia belum masuk sekolah pasti saya akan bawak dia juga dan pasti akan sesenang ini juga kali ya.

Sampai diruangan saya daftar, cari meja (sudah dicariin meja sih sama temen saya tinggal duduk doang kok. hi..hi..hi..). Saya dapat meja yang kursi 3 , dan itu 3 baris dari belakang. wis… ra po po walo duduk dibelakang yang penting bisa ikut belajar and anak anteng. Takutnya kalau duduk didepan anakku terlampau terekspose (mamak Mode  on GeEr). Wkwkwkwkwk.

Saya duduk bareng temen saya satu sekolah, ibu Risnayanti. nah si baby duduk diantara saya dan buk Risna. dan setelah saya baru nyadar, Masha Allah ternyata cuman gue, peserta, yang bawak anaaakkkk. OMG… piye iki, bathin saya. Entar kalau panitia nya komplen gimana (panik mode on)?

Tetapi bapak ibu… alhamdulillah sepanjang acara , tidak ada satupun panitia yang komplen bahkan salah seorang pembicara nya yaitu Mbak Maha Decha Dwi Putri, M.Psi, Psikolog dari RS Awalbros Pekanbaru merasa sangat bangga dan appreciate saya karena saya satu – satunya peserta (ibu) yang bawa anak, baby lagi. Dan beliau juga sempat interaksi dengan baby Gibran. Dan seperti biasa Gibran memberikan senyum besar indah lepas nya ke Mbak Decha.  Ahhhh……., mamak bangga dek jadi ibumu. Kamu masih 20 bulan tapi keberanian kamu dalam situasi yang kemaren patut diacungi jempol  nak. Apalagi materi dari Mbak Decha mengenai parenting, ngenak banget di saya (khususnya) dan peserta lain (umumnya). Mbak Decha bilang, setiap anak itu berbeda, bakat dan potensi anak tidak dapat dibandingkan. Stimulus yang berbeda akan menghasilkan potensi yang berbeda. Semua membutuhkan latihan dan eksplorasi.

Mbak Decha juga bilang, Orangtua Abad 21 atau Orangtua millenial adalah orangtua yang dianggap lebih santai dalam mengasuh anak, dan lebih banyak membebaskan anak, karena ingin bersikap demokratis (tegas) dalam mengasuh.

Sementara karakteristik Anak Zaman Now adalah hidup dalam arus informasi cepat dan serba mudah, mereka lebih pintar atau memiliki banyak pengetahuan, namun karena informasi yang luas dan semuanya serba mudah, generasi ini dianggap kurang gigih, (low motivation to solve problem) tidak mampu berkonsentrasi lama dan tidak sabaran. Dan itu semua menyebabkan rusaknya inhibitory control pada otak – Impulse; adiksi, gangguan Atensi dan hiperaktifitas; gangguan emosi (depresi), anxiety dan cognitive deficite (Decession making, responds inhibition)

Dan saya juga baru sadar dan paham bahwa orangtua sebagai pemberi stimulus utama, bahwa :

  • Dunia anak pertama kali adalah orangtua
  • Pola asuh mempengaruhi potensi anak
  • Orangtua sibuk? Dont be an adiksi smartphone!

Dan bagaimana cara meningkatkan potensi anak:

  1. Kenali “anak” secara personal —– Sadari potensi anak
  2. Menciptakan “ RASA INGIN TAHU” pada anak
  3. Kegiatan brainstorming
  4. Kesempatan bereksplorasi

Dan bagaimana meningkatkan potensi anak?

  1. Motivasi internal (Reward and Punishment)
  2. Mengembangkan cara berpikir fleksibel
  3. Mengembangkan keyakinan akan potensi diri —– Self Concept
  4. Bekerja sama dengan GURU, Pengajar mereka disekolah

Dan itulah sebagian dari sekian materi yang saya dapat dari seminar dan pelatihan hari Sabtu kemaren ya bapak ibuk. Dan apa kabar dengan Baby Gibran selama saya asyik mantengin materi dari mbak Decha??? Beliau santai aja tuh. Asyik makan snacknya, susunya, corat coret kertas…bikin bebek (awalnya si mamak yang kasih tunjuk,,,ngegambarin..ehh…akhirnya dia nagih terus supaya mamaknya bikin gambar tuh bebek. Untungnya sebagai seorang perempuan saya dianugerahi otak kanan dan otak kiri yang bisa bekerja berdampingan dengan damai dan tenang. Saya bisa menyimak materi sambil bikin gambar bebek. Hi..hi..hi..

Kalau dia ngantuk di nenenin (masih nenen ya buk) . Terus dia bobok sambil saya pangku. Adalah dapat sepukul boboknya. (Sepukul kata saya itu sama dengan satu jam ya bapak ibuk) Terbayang kan pegelnya lengan saya. Tapi itu semua berbanding dengan lurus dengan ilmu yang saya peroleh. Eeaaaaa.Udah. Gitu aja. Saya masih bisa belajar kan? Masih dapat ilmu juga. Saya bisa jumpa dengan teman dan berkenalan dengan teman – teman baru.  Jadi siapa bilang punya anak banyak dan masih kecil tidak bisa cari ilmu.

Namun ada satu hal yang menyisakan rasa sedih … selama acara seminar dan pelatihannya berlangsung dan diselingi oleh DOOR PRIZE INI ITU…. saya SATU PUN ga ada yang dapat. Hik. Memang gak hoki ni nomor Satu Nol Nol. Setiap ada sesi door prize, nih nomor ga pernah keluar. Sedih kan. Tapi saya ikhlas kok. Mudah – mudahan di pelatihan berikutnya saya masih dianugerahi umur panjang dan sehat badan (Insha Allah) hingga saya bisa join lagi (bersama Baby Gibran tentunya). Dan dapat Door Prize yang Bbbbuuuaaannyyaakkk!!!! AMMMIIIIIINNNN!!!!!!

Tapi… ga dapat door prize bisa foto bersama bareng bapak ibuk hebat ini saja rasanya sudah luar biasa.

 

 

SEE YOU next time ya GGDN

Nama       : Desy Kumala Sari, S.Pd

TTL          : Pekanbaru, 30 Desember 1980

Alamat     : Jl. Bukit Barisan Perum Taman Bukit Indah Blok D/60 Tenayan Raya Pekanbaru Riau

Pendidikan : S1 Bahasa Inggris FKIP UIR Tahun 2004

Riwayat Pekerjaan : SDN 090 2000 – 2003

MTs Bustanul Ulum 2003 – 2009

MTsN 2 Pekanbaru 2009 – sekarang

Email       : desikumala563@gmail.com

Social Media : Fb Deasy Koemala, Ig Deasy Koemala

WA / Telegram 081378017375

Penulis merupakan seorang istri, ibu empat orang anak ( tertua perempuan, berikutnya berturut turut laki – laki) dan seorang ASN di lingkungan Kementrian Agama Kota Pekanbaru yang bertempat tugas di MTsN 2 Pekanbaru yang beralamat di Jl. Yos Sudarso Km.15 Rumbai.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan menginspirasi banyak orang. Saran dan kritik mohon layangkan ke desikumala@gmail.com, or FB  @ Deasy Koemala, or Ig @ Deasy Koemala

 

 

 

THE POWER OF KEPEPET

Oleh : Desy Kumala Sari, S.Pd (Guru MTsN 2 Pekanbaru)

Saya mengajar sudah sejak tahun 2002, berawal dari mulai mengajar sebagai guru privat untuk anak-anak SD dekat rumah. Waktu itu saya masih kuliah tingkat 2 FKIP UIR, setahun kemudian saya mulai mengajar di SDN 090. Disini saya mengajar selama hampir 3 tahun kemudian saya mengajar sebagai guru honor di MTs Bustanul Ulum mulai tahun 2004 sampai dengan tahun 2009. Pada tahun 2009 SK CPNS saya, alhamdulillah, keluar dan kemudian saya ditugaskan di MTsN Muarafajar Rumbai yang sekarang bernama MTsN 2 Pekanbaru.

Sudah hampir 10 tahun saya mengajar disini, sudah bermacam-macam hal saya temui, mulai dari guru- gurunya hingga murid-muridnya. Dan pada tahun ini, tahun ajaran 2017/2018 ini saya mengajar kelas IX (empat kelas) untuk mapel Bahasa Inggris dan TIK dan kelas IV (satu kelas) untuk mapel Bahasa Inggris. Total beban mengajar saya 28 jampel per minggu.

Nah, semester ini betul betul penuh perjuangan. Kenapa? Karena entah mengapa kondisi anak–anak semakin menurun semangat belajarnya. Mereka lebih senang jika saya (atau guru lainnya) hanya memberi tugas latihan atau hanya sekedar bercerita ngalor ngidul yang terkadang tidak ada hubungan nya sama sekali dengan materi pelajaran hari itu. Padahal saya (kami) sebagai guru kelas 9 harus mengejar materi ajar, yang harus di review dari kelas 7 dan 8. Dari 5 kelas yang saya disi Khusus Tidak Untuk Dijual

ajar hanya satu kelas yang dianggap bisa “bekerjasama” sedangkan yang lainnya…ya allah…rasanya cobaan tiap hari setiap bel pergantian jam itu berbunyi (emoticon mewek).

Pada pertengahan Februari, saya mempersiapkan materi ajar report text…sudah terbayang dibenak materi apa yang akan saya ajarkan, metode apa yang akan saya gunakan dan alat peraga apa yang saya gunakan. Akhirnya saya memutuskan menggunakan Power Point. Butuh waktu semalaman untuk menyiapkan segalanya, dari mulai ketik materi, soal latihannya, soal kuisnya, browsing dan unduh video yang berkaitan dengan materi saya. Materi yang akan saya ajar yaitu report text tentang Platypus. Kalau menurut saya materi ini pasti mengasikkan dikelas, pasti siswa saya akan excited (angan saya)

Pada hari berikutnya, hari selasa saya masuk di kelas 9.1, saya ada 3 jam disana…dengan PeDe nya saya masuk kelas cuma dengan modal buku absen, buku materi dan notebook lengkap dengan chargernya. Saya masuk, dengan semangat menebar senyum untuk murid- murid saya (sebelumnya sudah titip pesan ke ketua kelasnya untuk menyiapkan infocus dikelas jadi nanti saya datang langsung belajar kita). Saya absen mereka satu-satu, tanya kabar mereka dan review sedikit pelajaran dihari senin kemarin.

Pada saat itu saya baru sadar kalau infocus belum standbye dikelas, saya mulai marah nih…namun alhamdulillah emosi bisa saya tahan (ini merupakan prestasi luar biasa bagi saya…karena sejak saya mulai mengikuti Samisanov

mengajar saya sudah dikenal dengan “ke killer an “saya. Dan rupanya tidak enak jadi guru killer itu….maksud hati ingin mendisplinkan anak, namun apa daya, zaman sudah berubah. Daripada terjadi yang tidak-tidak maka resolusi tahun 2018 saya adalah mengurangi ke killer an saya. Saya ingin dikenal sebagai guru yang ramah namun murid tetap segan.) Saya tanya ke anak “ Affan…infocus nya mana nak?” “ di pake mem…saya anak KSM di ruang Labor”. Saya tanyakan ke Ibu Norma(BMN nya sekolah) apa saya pinjam infocus, beliau bilang infocus ada 2, yang satu ada di ruang UNBK yang satu lagi free boleh dipake oleh siapa saja. Saya langsung blank…gimana ini. Dan… ada satu lagi yang bikin dada saya tambah nyesek… Ibu pengawas langsung masuk ke ruangan saya… saya sudah diberitahu akan ada supervisi untuk saya namun saya ga update tanggal berapa dan jam keberapa jadwal supervisi saya…ya Allah….gelap langit rasanya.

Saya tarik napas dalam dalam….ok…the show must go on saya pikir…apapun yang terjadi terjadilah. Hanya itu yang ada dalam pikiran saya. Apalagi ibu pengawas sudah duduk di belakang kelas…akhirnya saya tampilkan senyum termanis saya…dan saya mulai menjelaskan materi saya sambil menggotong notebook itu kemana mana keliling keliling kelas ke tiap-tiap anak untuk menunjukkan video tentang platypus.

Dan alhamdulilllah mereka senang…dan diakhir pelajaran saya sajikan kuis, meraka bisa menjawabnya dengan lancar hanya dengan modal nonton video secuil cuil tadi yang saya perlihatkan. 3 jam pelajaran itupun berjalan tanpa kami sadari. 3 jam yang menyenangkan. 3

137

Edisi Khusus Tidak Untuk Dijual

jam yang penuh makna. Bermakna bagi saya bahwa mengajar itu bukan hanya sekedar datang mengabsen dan memberi soal latihan, tapi juga belajar bagaimana mencari solusi memecahkan masalah dikelas dengan mencari materi materi ajar yang menarik bagi anak dengan memanfaatkan teknologi walaupun masih sangat sederhana.

Profil Penulis Nama : Desy Kumala Sari. S.Pd

Unit Kerja : MTsN 2 Pekanbaru

Jabatan : Guru Bahasa Inggris

Alamat Rumah : Jl. Bukit barisan Perum Taman Bukit Indah Blok D/60

Kec. Tenayan Raya Pekanbaru Riau

 

 

(Eshaye)